Rabu, 01 Oktober 2014

Keunggulan sengon solomon hasil kultur jaringan

Sengon Solomon memiliki segudang keunggulan yang tidak dimiliki oleh sengon local, diantaranya adalah genetika yang masih murni dan tidak tercampur perkawinan sedarah/inbreeding seperti sengon local. 
Sengon Solomon Pertumbuhannya juga mengagumkan serta memiliki daya tahan terhadap karat tumor dan uret relative baik dibandingkan dengan sengon laut local. Bahkan di uji coba penanaman di Kecamatan Kranggan, Kabupaten temanggung. Sengon Solomon ini memiliki pertumbuhan 2x lebih cepat dibandingkan sengon laut local. Dimana di lokasi yang memiliki ketinggian 800 an meter dpl tersebut sengon local di usia 5 tahun memiliki diameter rata rata 15-20 cm, sengon Solomon bisa memiliki diameter 30-40 cm dan tinggi dahan diatas 17 meter.

pengambilan jaringan hijau untuk diperbanyak

Kenapa harus di kultur jaringan…? Karena sengon Solomon f1 ini bijinya sangat sedikit, kemungkinan perbedaan iklim dengan habitat asalnya  menjadikannya tidak mau berbuah/berbiji  , harap mahfum di lokasi asalnya di Solomon island pasifik memiliki cuaca ekstrim yg mendorong mudahnya berbunga dan berbuah. Dan kami mengambil ujung tanamanuntuk di klon melalui KULTUR JARINGAN.
Kultur jaringan ini memiliki keunggulan sebagai berikut :
- Pengadaan sewaktu waktu bibit tidak tergantung musim
-  Bibit dapat diproduksi dalam jumlah banyak dengan waktu yang relatif lebih cepat 
-  Bibit yang dihasilkan relatif  seragam kecepatan tumbuhnya 
- bibit yang dihasilkan bebas penyakit (menggunakan organ tertentu)
-  Dalam proses pembibitan bebas dari gangguan hama, penyakit, dan deraan lingkungan lainnya
-Dapat diperoleh sifat-sifat yang dikehendaki sesuai pohon indukannya
 -Metabolit sekunder tanaman segera didapat tanpa perlu menunggu tanaman dewasa
- genetikanya terjaga dari kontaminasi / inbreeding/perkawinan liar
bibit sengon solomon
daun dimasukkan ke botol saat proses membawa ke lab

Tahapan yang dilakukan dalam perbanyakan tanaman dengan teknik kultur jaringan adalah:1)    Pembuatan media
2)    Inisiasi
3)    Sterilisasi
4)    Multiplikasi
5)    Pengakaran
6)    Aklimatisasi
Media merupakan faktor penentu dalam perbanyakan dengan kultur jaringan.  Komposisi media yang digunakan tergantung dengan jenis tanaman yang akan diperbanyak. Media yang digunakan biasanya terdiri dari garam mineral, vitamin, dan hormon.  Selain itu, diperlukan juga bahan tambahan seperti agar, gula, dan lain-lain.  Zat pengatur tumbuh (hormon) yang ditambahkan juga bervariasi, baik jenisnya maupun jumlahnya, tergantung dengan tujuan dari kultur jaringan yang dilakukan.  Media yang sudah jadi ditempatkan pada tabung reaksi atau botol-botol kaca.  Media yang digunakan juga harus disterilkan dengan cara memanaskannya dengan autoklaf.
Inisiasi adalah pengambilan eksplan dari bagian tanaman yang akan dikulturkan. Bagian tanaman yang sering digunakan untuk kegiatan kultur jaringan adalah tunas. 
Sterilisasi adalah bahwa segala kegiatan dalam kultur jaringan harus dilakukan di tempat yang steril, yaitu di laminar flow dan menggunakan alat-alat yang juga steril. Sterilisasi juga dilakukan terhadap peralatan, yaitu menggunakan etanol yang disemprotkan secara merata pada peralatan yang digunakan.  Teknisi yang melakukan kultur jaringan juga harus steril.  


bibit sengon solomon
PROSES SELEKSI DAN PERBANYAKAN SENGON SOLOMON DI LABORATORIUM

Multiplikasi adalah kegiatan memperbanyak calon tanaman dengan menanam eksplan pada media. Kegiatan ini dilakukan di laminar flow untuk menghindari adanya kontaminasi yang menyebabkan gagalnya pertumbuhan eksplan.  Tabung reaksi yang telah ditanami ekplan diletakkan pada rak-rak dan ditempatkan di tempat yang steril dengan suhu kamar.


bibit sengon solomon
PROSES AKLIMITASI SENGON SOLOMON 

Pengakaran adalah fase dimana eksplan akan menunjukkan adanya pertumbuhan akar yang menandai bahwa proses kultur jaringan yang dilakukan mulai berjalan dengan baik.  Pengamatan dilakukan setiap hari untuk melihat pertumbuhan dan perkembangan akar serta untuk melihat adanya kontaminasi oleh bakteri ataupun jamur. Eksplan yang terkontaminasi akan menunjukkan gejala seperti berwarna putih atau biru (disebabkan jamur) atau busuk (disebabkan bakteri). 

bibit sengon solomon
bibit siap tanam hasil kultur jaringan

Aklimatisasi adalah kegiatan memindahkan eksplan keluar dari ruangan aseptic ke bedeng. Pemindahan dilakukan secara hati-hati dan bertahap, yaitu dengan memberikan sungkup. Sungkup digunakan untuk melindungi bibit dari udara luar dan serangan hama penyakit karena bibit hasil kultur jaringan sangat rentan terhadap serangan hama penyakit dan udara luar. Setelah bibit mampu beradaptasi dengan lingkungan barunya maka secara bertahap sungkup dilepaskan dan pemeliharaan bibit dilakukan dengan cara yang sama dengan pemeliharaan bibit generatif. 


Tidak ada komentar: