Minggu, 15 Mei 2016

Pengalaman menarik menanam sengon solomon di lahan tandus




Pusing bukan kepalang , begitulah yang dirasakan Kholid Akrom, petani sekaligus pengajar ngaji yang beralamat di Desa Wonodadi , Kecamatan Plantungan Kabupaten Kendal, Jateng saat diminta melakukan penanaman sengon solomon dilahan kas Desa Wonodadi,  pasalnya lahan yang berketinggian 850 meter DPL ini sudah 2 x ditanami tanaman keras yang pertama sengon lokal oleh proyek Gerhan tahun 2000 an tapi gagal total , kemudian ditanami juga dengan jabon tahun 2009 hasilnya tahun 2015 dipanen kurang memuaskan, padahal sudah ditanam sesuai dengan prosedur penanaman yang ada di materi perkebunan dan pengalaman dilapangan. 
Add caption

sengon solomon usia 4 bulan disamping tanaman jabon berusia 6 tahun di lokasi yang sama. kombinasi bibit unggul dan perawatan bagus menghasilkan tanaman yang vigor dan adaptif


Sengon solomon usia 7 bulan di lahan kering dan pegunungan pertumbuhan nya melampui sengon lokal usia 2 tahun di lahan  yang sama

Sengon solomon ( kanan ) usia 9 bulan disamping kiri jabon usia 6.5 tahun dilahan yang sama ( pegunungan 800 meter dpl ,lahan miring pengairan tadah hujan)


   

Kondisi lahan yang miring kebarat dengan kemiringan diatas 40 derajat ini tantangannya adalah air sangat mudah hilang kebawah dan unsur hara terlarut bila hujan deras, akhirnya setelah berkoordinasi dengan beberapa praktisi dan  belajar otodidak melalui materi materi di luar negeri, diantaranya eropa, India dan Afrika , Kholid Akrom melakukan langkah nekat.  Dia memilih varietas sengon solomon yang sebelumnya ditanam dengan jumlah tidak banyak di desa wonodadi yang memiliki kondisi relatif mirip dan saat kemarau panjang / el nino 2015 relatif bertahan dibanding sengon lokal.
Langkah yang ditempuh bapak Akrom diantaranya menyiapkan lubang tanam berukuran besar yaitu ukuran 40x40x40 cm kemudian menyiapkan pupuk kandang dan pupuk hayati serta arang afkir yang dibeli di pembuat arang, dipilihnya arang sebagai suplemen bukan tanpa alasan yaitu sebagai bahan penyerap air dan tempat hidup bakteri. Di luar negeri arang dinamakan BIO CHAR sudah lama digunakan dibidang pertanian dan peternakan. Di pertanian terbukti dengan penambahan arang maka sayuran lebih cepat tumbuh dan pohon buah akan lebih cepat berbuah. Kemudian ditambahi pula dengan sedikit kapur pertanian alias dolomit dan pupuk Hayati dari urine sapi di fermentasi sebagai penstabil keasaman tanah dan sumber bakteri pemasak hara bagi tanaman.
dalam hal pengolahan tanah bapak  akrom membuat rorak ( parit buntu) di sekitar tanaman dibuat melingkar, fungsinya sebagai penahan air dan unsur hara, sistem ini sudah diterapkan di india dan afrika yang curah hujannya lebih rendah dari Indonesia.
 
mulsa organik dan selokan kecil melingkar menjadi andalan dalam menangkap air dan unsur hara.
Waktu berlalu ternyata dalam waktu 4-5 bulanan pertumbuhan sengon solomon di lahan Kas Desa ini luar biasa, bahkan sisa tanaman jabon usia 6 tahun lebih bisa terlampui oleh sengon solomon usia 4-5 bulanan. Bahkan warga desa tak percaya apabila melihat tanaman dilahan ini, mereka mengira pasti ada pemupukan ekstrim dan rekayasa genetika,  padahal perawatan yang dilakukan biasa saja.

               ^^^ sengon solomon ditanam akhir Januari 2016^^^


Ternyata kombinasi sengon solomon yang terkenal unggul dan adaptif dilahan dataran rendah dan tinggi dipandu dengan perawatan yang baik akan menghasilkan tanaman yang mampu hidup di kondisi yang jelek,
Kini tanaman di Lahan Kas Desa Wonodadi ini tumbuh luar biasa, untuk menghadapi musim kemarau dibuatlah mulsa organik dari serasah dan semak semak dibabat , selain penahan hujan dan panas mulsa ini kelak akan menjadi pupuk sehingga hemat pupuk kimia. Nantikan report kami selanjutnya.



Tidak ada komentar: