artikel tentang sengon solomon di Majalah Trubus edisi Agustus 2014

Pertumbuhan sengon solomon dua kali lebih cepat dibanding sengon lokal. Pada umur tiga tahun diameter sengon solomon mencapai 25 dan tinggi batang lurus 20 m.
Suara menderu mesin pemotong itu merobek keheningan siang Desa Kebonsari, Kecamatan Temanggung, Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah. Dalam hitungan menit, sebatang pohon sengon rebah ke tanah. Hari itu Agus Sumarmo menebang 100 batang sengon berumur 5 tahun secara borongan. Agus menjual borongan, bukan per kubik, karena lebih praktis. “Pemborong datang, menaksir, membayar, lalu ketika dia menebang saya tinggal pulang,” tutur Agus.
Pemborong membanderol kayu Paraserianthes falcataria itu Rp2-juta per batang berdiameter 50 cm. Jika diameter 30 cm harganya Rp750.000 dan diameter 25 cm, Rp450.000 per batang. Agus bungah meraup omzet Rp80-juta pada pengujung 2012 itu. Pohon berumur 5 tahun diameter batang 50 cm? Harap mafhum Agus memang menanam sengon solomon, bukan sengon biasa! Diameter sengon biasa pada umur 5 tahun itu rata-rata hanya 25 cm.
kebun Pak Agus sendri ada di ketinggian 600 meter DPL artinya solomon adaptif mulai dataran rendah sampai dataran tinggi


Menurut perhitungan Agus, sebatang solomon berumur 5 tahun itu dengan batang bebas cabang sepanjang 15-20 meter mampu menghasilkan 0,9-1,1 m3. Agus mendapati 10 pohon berdiameter 50 cm sehingga setara 9-11 m3. Bandingkan dengan kubikasi sengon lokal pada umur 5 tahun dengan tinggi batang bebas cabang rata-rata hanya 8-10 meter. Oleh karena itu sebatang sengon lokal hanya menghasilkan 0,7-0,9 m3. Meski meraksasa, biaya produksi sengon solomon relatif sama dengan sengon biasa. Agus hanya mengeluarkan biaya perawatan rata-rata Rp2.500 per pohon per tahun.
Rantai tata niaga sengon sejak bibit sampai panen sudah terbentuk
Rantai tata niaga sengon sejak bibit sampai panen sudah terbentuk
Ketika panen, dari 100 pohon terdapat 10 pohon berdiameter batang 50 cm. Artinya sengon solomon di kebun Agus memang bongsor. Riap tumbuh rata-rata 10 cm per tahun. Itu dua kali lipat riap tumbuh sengon lokal. Di kebun Agus masih tersisa 400 pohon solomon hasil penanaman pada 2006-2007. Pohon-pohon yang kini berumur 7-8 tahun itu berdiameter 60-75 cm. Agus tidak berencana memanen karena pohon-pohon itu akan dijadikan indukan.

Bibit sengon hasil perbanyakan generatif
Pekebun sengon sejak 2004 itu memperoleh benih solomon dari Dr Eko Bhakti Hardiyanto, peneliti di Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada pada 2006. Adapun Eko Bhakti mendapatkan benih dari Pusat Benih Tanaman Kehutanan Asean (AFTSC, Asean Forest Tree Seed Centre, sekarang menjadi Asean-Canada Forest Tree Seed Centre, red.) di Saraburi, Thailand, pada 1994. Pada 2002, seorang rekan di Kepulauan Solomon, Pasifik, mengirim sekilogram benih sengon solomon terdiri atas 20.000-25.000 biji kepada Eko

 Periset sengon solomon di Departemen Silvikultur, Institut Pertanian Bogor, Dr Ir Ulfah Juniarti Siregar, mengatakan, pertumbuhan sengon solomon dua kali lipat dibanding sengon lokal. Sudah cepat tumbuh, solomon tahan gempuran hama dan penyakit pula. Riset ilmiah membuktikan bahwa pohon solomon resisten serangan kumbang serendang Xystrocera festiva penyebab hama boktor. Larva kumbang itu menggerek bagian dalam pohon sehingga pasar menolak kayu hasil gerekan (baca “Tak Mempan Serendang” halaman 20-21).


Mengapa solomon tumbuh bongsor? Menurut Dr Irdika Mansur MForSc, ahli Silvikultur di Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor, tekanan alam itu yang membentuk sengon solomon lebih “bandel” ketimbang sengon lokal. Maklum, kepulauan Solomon, yang menjadi panggung utama pertempuran Pasifik ketika pasukan sekutu memukul balik posisi Jepang di Asia tenggara pada Perang Dunia II, terbilang “keras”. Angin kencang dari lautan berembus tanpa henti dan karakter daratan yang landai di zona tropis menjadikan periode penyinaran harian genap 12 jam atau lebih. “Namun kondisi keras itu justru menguntungkan tanaman yang mampu bersimbiosis dengan makhluk lain,” tutur Irdika.

Kayu sengon menjadi bahan utama pembuatan palet kayu
Sengon anggota famili Fabaceae alias kacang-kacangan menyediakan rumah bagi bakteri pengikat nitrogen di bintil akar. Bakteri memperoleh makanan karbohidrat hasil fotosintesis daun, sementara akar memperoleh asupan nitrogen siap saji dalam bentuk ion nitrit yang ditangkap bakteri dari udara. Menurut Ir Yos Sutiyoso, pakar Fisiologi Tanaman di Jakarta, asupan nitrogen berguna untuk pertumbuhan vegetatif, antara lain pertunasan daun. Itu menjelaskan karakter daun sengon solomon yang relatif lebih lebar daripada sengon lokal.
Irdika menduga, daun lebar itu membuat sengon solomon mampu menangkap lebih banyak sinar matahari sehingga fotosintesis lebih cepat dan menghasilkan lebih banyak karbohidrat. Hasil akhirnya, tanaman tumbuh bongsor dalam waktu lebih singkat. A

Tidak ada komentar: